Mata berpendar memancar sejuta rasa
Tangan terulur meraih asa
Masihkah ada cita di sana
Itu semua terlambat..
Karena cintaku tak untuk dimiliki
Jumat, 03 Oktober 2008
Selasa, 30 September 2008
Cermin
Seorang pujangga berkata,
Kehidupan itu bagai cermin...
Jika kamu tersenyum maka dia akan tersenyum kepadamu..
Jika kamu marah dan murka maka dia akan murka pula padamu...
Tapi..
Mengapa kemarin itu tak terjadi padaku??
Aku tak menghujatnya. Tak mengucap sepatah katapun bahkan..
Mengapa ia mencaciku? Menginjakku? Membuatku menangis?
Apa ia menangis untukku?
Kemana kamu cermin?
Lanjut pujangga itu...
Cermin itu sudah rusak dan hancur berantakan
saat ada upaya memasukkan lingga ke dalam mulutmu..
Pujangga,
Aku memasukkannya karena aku mencintaimu..
bukan karena nafsu sesaat yang lalu lepas berderai..
Cermin, apa kamu cuma milik pujangga?
Aku menginginkanmu cermin..
Terutama saat ini..
Kehidupan itu bagai cermin...
Jika kamu tersenyum maka dia akan tersenyum kepadamu..
Jika kamu marah dan murka maka dia akan murka pula padamu...
Tapi..
Mengapa kemarin itu tak terjadi padaku??
Aku tak menghujatnya. Tak mengucap sepatah katapun bahkan..
Mengapa ia mencaciku? Menginjakku? Membuatku menangis?
Apa ia menangis untukku?
Kemana kamu cermin?
Lanjut pujangga itu...
Cermin itu sudah rusak dan hancur berantakan
saat ada upaya memasukkan lingga ke dalam mulutmu..
Pujangga,
Aku memasukkannya karena aku mencintaimu..
bukan karena nafsu sesaat yang lalu lepas berderai..
Cermin, apa kamu cuma milik pujangga?
Aku menginginkanmu cermin..
Terutama saat ini..
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)